Dilihat : 86 kali

ARAH BAIK – United Nations (PBB) memprediksi populasi di India akan melampaui China pada 2023 mendatang.

Dengan demikian, India akan melengserkan China sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia.

Dalam laporan yang dirilis pada Hari Populasi Dunia pada Senin, 11 Juli 2022, PBB mengatakan populasi global diperkirakan akan mencapai 8 miliar pada pertengahan November 2022.

Sementara saat ini, populasi India mencapai 1,417 miliar dan diperkirakan akan meningkat menjadi 1,429 miliar.

Direktur Divisi Kependudukan Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB, John Wilmoth mengatakan bahwa populasi dunia saat ini masi tumbuh, namun, kecepatan pertumbuhannya melambat.

“Kami memperkirakan akan mencapai 8 miliar akhir tahun, 9 miliar sekitar tahun 2037 dan 10 miliar sekitar tahun 2058. Pupulasi global diperkirakan akan mencapai ukuran puncaknya pada tahun 2080-an sekitar 10,4 miliar orang,” katanya.

“Tingkat pertumbuhan berbeda setiap negara. Saat ini China adalah neara terpadat di dunia (1,426 miliar) tetapi pertumbuhannya melambat. Suatu saat di tahun 2023, kami berharap India akan melampaui China sebagai negara terpadat di dunia,” lanjutnya.

Di sisi lain, Direktur Institut  Internasional untuk Ilmu Kependudukan, Dr KS James memberikan pandangan yang berbeda.

Dikutip dari Indian Express , Dr James mengatakan bahwa yang menjadi perhatian sebenarnya bukanlah peningkatan populasi.

“Yang menjadi perhatian bukan peningkatan tetapi kualitas penduduk dalam hal pendidikan yang ebih baik, tingkat keterampilan dan semcamnya,” katanya.

Menurut laporan PBB , populasi di atas 65 tahun tumbuh lebih cepat dibandingkan populasi yang lebih muda.

“Dari tahun 1950 -2050, kami berharap populasi di atas 65 akan tumbuh dari 5 sampai 16 persen dari total. Pada tahun 2100 diproyeksikan bahwa populasi global di atas usia 65 tahun akan jauh lebih besar daripada pupulaso di bawah usia 15 tahun,” kata Wilmoth.

Pandemi Covid-19 memiliki konsekuensi demografi yang signifikan, sehingga mempengaruhi semua komponen populasi , termasuk kematian, kesuburan, dan migrasi.

Untuk beberapa negara, ada bukti fluktuasi terakit pendemi terkait kelahiran. Sementara di tempat lain, tampaknya pandemi tidak terlalu memengaruhi tren kelahiran.

Adapun tingkat kesuburan di India diperkirakan akan turun, dari yang kini mencapai 2,01 menjadi 1,78 pada 2050, kemudian 1,69 pada 2100 dibandingkan dengan rata-rata global 2,3.

Temuan mengungkapkan bahwa jumlah kelahiran di India pada wanita berusia 15 hingga 19 tahun kemungkinan turun dari 988.000 menjadi 282 pada tahun 2050 dan kemudian menjadi 132.000 pada tahun 2100.

Menyikapi laporan PBB tersebut, aktivis gender dan iklim, Debanjana Chouhury mengatakan bahwa sebenarnya yang terpenting adalah hal kedepannya.

“Apa selanjutnya?Hasil terpenting dari mengetahui perkiraan ini adalah bagaimana pemerintah akan meningkatkan investasi mereka pada akses seksual dan reproduksi dan mengambil langkah proaktif untuk mengatasi perubahan iklim dan memperhatikan bagian masyarakat yang rentan dan terpinggirkan,” ujarnya.

Ia mengatakan, perempuan dan anak perempuan di India telah lama menanggung bebab terkait kontrasepsi dan program keluarga berencana.

Selain itu, perempuan juga merupakan korban terburuk dari dampak perubahan iklim.

Maka dari itu, ia menilai perlu adanya diskusi holistik, peningkatan investasi dan program seputar pendidikan seksulitas yang komprehensif untuk mencegah pernikahan anak dan masalah lainnya.

“Perempuan dan anak perempuan aharus diberdayakan untuk menjadi pembuat keputusan dan memiliki otonomi tubuh untuk memutuskan kapan dan jika, untuk memiliki anak,” kata Chouhury.***


Salip China India Bakal Jadi Negara Dengan Penduduk Terbanyak Di Dunia